Broken



Bismillah.

Akhirnya berani juga cerita tentang ini. Jujur ini adalah hal yang paling berat untuk saya ceritakan kepada siapapun. Bahkan kepada keluarga terdekat saja saya tidak pernah bercerita tentang kondisi rumah tangga saya, apa lagi hanya kepada teman main, BIG NO!

Khususnya kakak-kakak saya, saya kunjungi satu per satu, bahkan saya datang ke Bekasi dan saya ceritakan kondisi rumah tangga saya. Sengaja saya bercerita setelah selesai, karena jika saya bercerita pada saat saya masih dalam kondisi emosi, maka yang saya ceritakan hanya keburukan saja, saya akan membela diri terus menerus dan akan menyalahkan mantan saya.

Begitu pula dengan kantor dan teman-teman lainnya, mereka tahu setelah berbulan-bulan proses perceraian saya selesai. Atasan saya bahkan syok ketika saya mengajukan akta cerai. Saya tidak ingin orang lain yang diluar dari rumah tangga saya, menyalahkan salah satu diantara kami. Padahal dalam hal ini, kami berdualah yang salah, masalah ini muncul dari kami berdua.

Rumah tangga kami sudah menjalani LDR dari awal menikah, ternyata itu petakanya. Idealnya rumah tangga ya harus dalam atap yang sama. Permasalahannya apa dan bagaimana, tidak akan saya buka disini, biarkan ini menjadi rahasia saya dan mantan saya.

Banyak yang bertanya, bagaimana cara agar tidak menceritakan ke orang lain?

Dong tidak bisa mediasi dan lain-lain?

Ada dong pastinya tahap itu, semua proses sudah kami lalui dan itu panjang sekali tapi memang jalannya sudah seperti ini. Bahkan pada saat proses pengajuan berlangsung kami Sudah selesai dengan emosi masing-masing, kami bahkan sudah berkepala dingin. Nah, terkait cara agar bisa dipendam dan tidak diketahui oleh orang lain saya mengalihkannya ke olahraga, saya mulai gym, saya sepeda, saya yoga dan banyak olahraga lainnya yang saya coba. Sehingga emosi saya ya mengalirnya ke tempat yang tepat.

Bersyukurnya lagi, keluarga mantan sangat baik, bahkan sampai saat ini. Saya masih dianggap keluarga, meski status saya bukan menantu lagi. Pada saat saya umroh saja saya masih video call dengan keluarga mantan. Karena saya sudah lama kehilangan kedua orang tua, maka bapak dan mama mertua sudah saya anggap seperti orang tua saya sendiri.

Jujur, hal yang paling kehilangan dalam perpisahan kami adalah kehilangan cinta dari mama dan bapak mertua. Saya diperlakukan dengan luar biasa, bahkan jika di rumah mertua saya lagi ngambek dan tidak mau makan, mama akan anter makanan saya didalam kamar dan akan menunggui sampai saya selesai makan. Mama rajin sekali menelpon untuk menanyakan keadaan saya. Saya bersaksi bahwa bapak dan mama adalah orang tua terbaik di dunia ini dan keluarga polisi yang amanah. By the way, keluarga mertua adalah keluarga besar polisi.

Lalu bagaimana kondisi antara saya dan mantan suami? Tidak baik-baik saja dong. Hehe. Kami Sudah lost contact lama sekali, tapi saya bersyukur sekali, dalam proses perceraian sampai dengan saat ini, kami tidak saling menghujat, tidak saling menjelekkan diluar sana. Makanya sampai saat ini banyak yang berpikir saya dan mantan masih baik – baik saja. Saya mendoakan yang terbaik untuk sang mantan, bahagia till jannah dengan siapapun pendampingnya nanti.

Sebenarnya banyak hal yang saya khawatirkan terkait status saya sebagai seorang single parent, berkecamuk pemikiran-pemikiran negative akan hal itu. Tapi ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Saya pikir orang-orang akan mudah melecehkan wanita yang gagal dalam berumah tangga, tapi saya salah besar. Allah maha baik, masih mengangkat derajat saya. Benar halnya bahwa, perlakuan orang tergantung bagaimana kamu bersikap. Kalau kamu berkelakuan baik, maka kamu akan mendapatkan perlakuan yang sama.

Okay, segitu saja cerita ini. Dari cerita yang telah usai, saya pastinya mendapatkan banyak sekali pembelajaran, banyak hikmah dari setiap kejadian. Kita ambil baiknya, buang bagian buruknya. Untuk kehidupan selanjutnya harus jauh lebih baik lagi dan harus bahagia.

See you pada cerita selanjutnya.

Bye. Ditulis disini, untuk kamu, disana.

_NSR_

Comments

Popular Posts